Sejarah Bisnis Waralaba di Indonesia

Franchise merupakan salah satu cara mengembangkan usaha disamping cara-cara lainnya seperti kemitraan dan membuka cabang-cabang baru. Bisnis franchise atau waralaba saat ini sangat berkembang pesat. Ditandai dengan menjamurnya sejumlah franchise-franchise asing dan lokal di Indonesia, mulai dari franchise makanan, otomotif, properti, hingga bidang pendidikan.

Sistem pengembangan usaha dengan cara franchise ini dapat memacu pertumbuhan ekonomi suatu negara. Di Inggris sejak era abad ke-19, sistem tied house digunakan oleh perusahaan bir untuk meluaskan pasar produknya. Sistem ini kemudian dikembangkan di Amerika pada tahun 1851 oleh perusahaan mesin jahit singer untuk mengembangkan bisnisnya, memperluas jangkauan pemasaran singer, dan juga layanan servis mesin. Pada tahun 1898 General Motor juga menggunakan ide franchise ini untuk meningkatkan penjualan dan mengembangkan jaringan pemasaran dengan melibatkan investor/franchisee tanpa harus mengeluarkan banyak modal sendiri. Dan seterusnya bisnis franchise berkembang pesat dan dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Mc Donalds, Coca-cola, KFC, Wendys, Homes 21 Realty, dan lain-lain.

Sejarah Waralaba di Indonesia

Istilah franchise yang di-Indonesiakan adalah waralaba yang berasal dari kata wara (artinya banyak) dan laba (artinya untung). Pihak yang terlibat dari sistem ini ada dua yaitu franchisor (pewaralaba) sebagai pihak pemilik franchise, dan franchisee (terwaralaba) sebagai pihak yang diberikan hak untuk memasarkan brand milik franchisor.

Pada tahun 1950-an sistem waralaba mulai dikenal yaitu dengan munculnya dealer-dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Pembeli lisensi mempunyai hak untuk turut memasarkan produk kendaraan bermotor. Kemudian pada era tahun 1970-an dikenal sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak hanya memasarkan tetapi juga boleh memproduksi sendiri produknya.

Advertisement

Awal tahun 1980 sistem franchise digunakan oleh beberapa perusahaan mulai dari perusahaan makanan, fotografi, properti, dan pendidikan. Paling tidak terdapat enam perusahaan besar di Indonesia yang menggunakan sistem franchise sebagai strategi bisnisnya. Perusahaan tersebut diantaranya CFC, Es Teller 77, Ny. Tanzil Fried Chicken, Oxford Course, SS Photo, dan Homes 21 Realty.

Pada tanggal 22 November 1991 lima perusahaan di Indonesia, Es Teller 77, Widyaloka, Nilasari, Homes 21, dan Trim Mustika Citra sepakat untuk mendirikan sebuah oragnisasi yang mewadahi pelaku bisnis franchise yaitu Asosiasi Franchise Indonesia (AFI). Pendirian organisasi AFI ini dilandasi semangat kebersamaan dan kesadaran untuk meningkatkan kemampuan dan potensi bisnis franchise di Indonesia dan juga berlaku sebagai mitra pemerintah dan sektor swasta lainnya. Tujuan dibentuknya AFI ini antara lain sebagai wadah pengusaha dan peminat franchise, sumber informasi seputar franchise, mitra bagi pemerintah, pembinaan usaha franchise dengan kegiatan pelatihan dan konsultasi, dan juga sosialisasi franchise melalui kegiatan diskusi, seminar, dan pameran franchise agar lebih dikenal masyarakat luas.

Payung Hukum

Kepastian hukum franchise di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. PP No. 16 tahun 1997 tentang waralaba ini telah dicabut dan diganti dengan PP no 42 tahun 2007 tentang Waralaba. Selanjutnya ketentuan-ketentuan lain yang mendukung kepastian hukum dalam format bisnis waralaba adalah sebagai berikut:

  • Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaraan Waralaba.
  • Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.
  • Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
  • Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

Perkembangan bisnis waralaba di Indonesia sangat pesat. Jika dulu pada tahun 1990-an waralaba asing sangat mendominasi ditandai dengan maraknya waralaba makanan cepat saja, kini waralaba-waralaba lokal tumbuh menjamur. Produk yang diwaralabakan juga semakin bervariasi. Mulai dari produk makanan bayi, makanan cepat saji, makanan dari bahan organik, produk kesehatan, lembaga pendidikan dan kursus, properti, perbengkelan, dealer mobil dan motor, dan sebagainya. Modal yang dikeluarkan oleh franchisee juga bervariasi. Jika dulu hanya waralaba besar dengan modal besar, kini ada waralaba yang bisa mulai dengan modal kecil mulai dari Rp 5 juta saja.

Kini juga hadir beberapa asosiasi waralaba di Indonesia diantaranya  AFI (Asosiasi Franchise Indonesia), APWINDO (Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia), WALI (Waralaba & License Indonesia). Lembaga konsultan bisnis waralaba juga bermunculan seperti IFBM, The Bridge, Hans Consulting, FT Consulting, Ben WarG Consulting, JSI dan lain-lain.

Apakah Anda tertarik menjalankan bisnis waralaba?

peluang bisnis forex trading

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *