Investasi Apapun Akan Rugi karena 3 Kesalahan ini

Investasi, instrumen apa pun, uniknya memiliki batasan-batasan serta tips yang sama untuk bisa mencapai kesuksesan.

Bagi banyak orang, sukses dalam berinvestasi adalah berhasil mengembangkan aset atau uang dalam investasinya. Sehingga, menjadi tambah banyak dalam suatu waktu.

Meski hal itu sejatinya benar, sayangnya prinsip dasar dalam investasi bukanlah ‘mengembangkan’ melainkan ‘mengamankan’.

Advertisement

Maksudnya adalah target utama seorang investor adalah bukan mampu membuat uangnya berkembang terlebih dahulu, tetapi adalah memastikan bahwa aktivitas dalam berinvestasi mampu mengamankan asetnya.

Seringkali seseorang sibuk dengan menghitung peluang berapa besar dapat menghasilkan keuntungan. Sehingga orang itu lupa bahwa potensi uangnya hilang sedemikian amat besar dalam berinvestasi di tempat tersebut.

Ketika berhasil membuat uangnya berkembang menjadi 50 persen lebih banyak, orang yang fokus dalam mengembangkan investasi cenderung melakukan investasinya selanjutnya dengan modal 150 persen. Itu berasal dari uang dia 100 persen dan ditambah keuntungan investasi 50 persen.

Artikel lain: Reksadana Pendapatan Tetap Menguntungkan?

Seorang investor dengan prinsip dasar ‘mengamankan’ investasi justru akan tetap berinvestasi dengan nilai investasi 100 persen dan mengamankan 50 persen hasil investasi di tempat yang jauh lebih aman.

Investasi 150 persen ketika kerugian terjadi 50 persen akan menyebabkan aset dan uang Anda tinggal 75 persen atau Anda menderita kerugian investasi 25 persen dari modal awal Anda.

Bagi investor yang fokus mengamankan, ketika 100 persennya terjadi kerugian, senasib dengan investor pertama, ia akan merasakan aset investasinya tersisa 50 persen.

Namun jangan lupa, bahwa investor tersebut masih memiliki 50 persen lainnya akibat telah diamankan sebelumnya.

Kesalahan lainnya dalam berinvestasi adalah menganggap bahwa investasi adalah dunia ilmu pasti, apa maksudnya?

Karena semua hal dalam investasi aset dan keuangan menggunakan angka, maka banyak investor menganggap bahwa investasi adalah sebuah jurusan matematika.

Dalam matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Dalam investasi yang merupakan bagian dari ekonomi, meski memakai angka, hasilnya ternyata tidak ada yang pasti.

Pergerakan ekonomi kadang membuat stres banyak pihak. Jangankan individu, negara dan dunia pun dibuat bingung. Kebingungan nyata pun terjadi hingga di Amerika hari ini.

Teorinya, bila uang beredar begitu banyak, maka ia akan menyebabkan inflasi alias harga barang-barang mengalami kenaikan. Itu salah satu pemahaman ekonomi mengenai arus uang.

Amerika lalu membanjiri negaranya dengan uang bahkan uang berbunga murah hingga tidak berbunga, dikenal dengan quantitative easing, semenjak krisis tahun 2008. Nyatanya, inflasi juga tidak kunjung terjadi hingga 2016 ini!

Investor yang terlalu percaya diri dengan kepastian dalam investasinya akan justru dapat terperosok dalam kerugian.

Seiring dengan perkembangan zaman, era keterbukaan informasi juga menjadi sebuah pedang bermata dua. Pasar bergerak dapat dikarenakan oleh sebuah fakta atau akibat sebuah gosip belaka.

Menjadi investor dengan hobi mengikuti ‘gosip’ belaka akan berakhir dengan kerugian besar. Karena ia bukan berinvestasi pada sebuah kenyataan namun pada sebuah cerita yang tidak tahu apakah akan berakhir dengan baik atau berakhir hancur lebur.

Bahkan, si pembuat cerita gosip pun belum tentu akan untung akibat gosip tersebut!
Berinvestasilah dengan fakta historis yang telah dipelajari dan tentu dengan pengamatan kembali potensinya ke depan.

Salam investasi untuk Indonesia! (Ryan Filbert, Kompas – Image: shutterstock)

Baca juga: Peluang Usaha Cepat Balik Modal

peluang bisnis forex trading

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.